Kesukaran hidup adalah realitas yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Pergumulan ekonomi, tekanan mental, konflik relasi, hingga krisis makna hidup sering kali hadir bersamaan dan menguji daya tahan manusia. Dalam kondisi demikian, tidak sedikit orang kehilangan arah dan harapan. Alkitab, sebagai sumber nilai dan kebijaksanaan rohani, menawarkan perspektif yang mendalam tentang bagaimana menghadapi tantangan hidup secara bijaksana dan penuh iman.
Kesukaran Hidup dalam Pandangan Alkitab
Alkitab tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah. Sebaliknya, Kitab Suci dengan jujur menggambarkan bahwa penderitaan merupakan bagian dari perjalanan manusia, termasuk mereka yang hidup dalam ketaatan. Tokoh-tokoh iman seperti Ayub, Daud, dan para rasul mengalami kesukaran yang berat, namun tetap bertahan karena memiliki relasi yang kuat dengan Tuhan.
Dari perspektif Alkitab, kesukaran hidup bukanlah bukti ketiadaan Tuhan, melainkan ruang di mana iman diuji dan dimurnikan. Tantangan sering kali menjadi sarana pembentukan karakter, ketekunan, dan kedewasaan rohani.
Iman sebagai Dasar Menghadapi Tantangan
Dalam situasi sulit, Alkitab mengarahkan manusia untuk menempatkan iman sebagai fondasi utama. Iman tidak dimaknai sebagai penyangkalan terhadap realitas penderitaan, melainkan sebagai sikap percaya bahwa Tuhan tetap bekerja di tengah keterbatasan manusia.
Sikap berserah kepada Tuhan mengajarkan kerendahan hati—mengakui bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan kekuatan sendiri. Dari iman inilah muncul ketenangan batin dan keberanian untuk melangkah, meskipun jalan ke depan belum sepenuhnya jelas.
Kesukaran sebagai Proses Pembentukan Diri
Alkitab menegaskan bahwa penderitaan memiliki nilai pembelajaran. Proses menghadapi kesukaran dapat membentuk ketahanan mental, kesabaran, serta kepekaan terhadap sesama. Dalam banyak kasus, justru melalui masa-masa sulit seseorang belajar memahami arti syukur, empati, dan ketergantungan kepada Tuhan.
Kesukaran hidup juga menolong manusia untuk meninjau ulang prioritas, membersihkan motivasi, dan memperdalam makna hidup. Dengan demikian, tantangan tidak lagi dipandang semata sebagai beban, melainkan sebagai proses pendewasaan.
Doa dan Firman Tuhan sebagai Penopang Kehidupan
Dalam tradisi iman Kristen, doa dan perenungan Firman Tuhan memiliki peran sentral dalam menghadapi tekanan hidup. Doa menjadi ruang dialog yang jujur antara manusia dan Tuhan, tempat mencurahkan kegelisahan sekaligus menerima penguatan. Sementara itu, Firman Tuhan memberikan arah, penghiburan, dan perspektif yang melampaui situasi sementara.
Melalui kebiasaan berdoa dan membaca Alkitab, seseorang diajak untuk memandang persoalan dari sudut pandang iman, bukan semata-mata dari keterbatasan manusiawi.
Pengharapan yang Memberi Kekuatan untuk Bertahan
Salah satu pesan utama Alkitab adalah pengharapan. Pengharapan ini tidak bergantung pada keadaan eksternal, melainkan pada keyakinan akan kesetiaan Tuhan. Pengharapan memberi kekuatan untuk bertahan, memampukan seseorang untuk bangkit kembali, dan menjaga hati agar tidak dikuasai keputusasaan.
Dalam iman Kristen, pengharapan bukan sikap pasrah tanpa usaha, melainkan keberanian untuk terus berjalan sambil percaya bahwa setiap proses memiliki tujuan yang bermakna.
Menghadapi tantangan di tengah kesukaran hidup membutuhkan keteguhan hati, kerendahan diri, dan iman yang bertumbuh. Alkitab mengajarkan bahwa di balik setiap pergumulan, selalu ada kesempatan untuk mengalami pembaruan diri dan kedekatan yang lebih dalam dengan Tuhan. Kesukaran mungkin tidak selalu dapat dihindari, tetapi dengan iman dan pengharapan, manusia dapat melaluinya dengan sikap yang lebih bijaksana dan penuh makna.(*)
Sumber : Kabar Utara Indonesia








