PULAU Siau, yang terkenal dengan Gunung Api Karangetang yang menjulang dan pesona alamnya yang memikat, menyimpan cerita panjang tentang perjalanan iman Kristen. Jejak Kekristenan di pulau ini sudah ada lebih dari 450 tahun, dimulai sejak abad ke‑16 ketika misionaris Katolik Portugis pertama kali mengunjungi wilayah Kerajaan Siau.
Sejarah mencatat bahwa pada sekitar tahun 1516, pendeta Katolik melakukan Misa Paskah di ibu kota kerajaan Paseng, dihadiri kalangan raja dan bangsawan setempat, menandai perjumpaan awal masyarakat Siau dengan ajaran Kristen. Kemudian memasuki awal abad ke‑17, umat Kristen telah mulai hadir di Kepulauan Siau dan Talaud melalui jalur Maluku dan Filipina.
Beberapa Jesuit menetap di Siau pada tahun 1670-an dan membangun gereja di wilayah Ulu yang menjadi titik awal 359 tahun perjalanan jemaat mula-mula di wilayah Ulu bahkan Siau, meskipun aktivitas ini tidak bertahan lama akibat konflik kolonial dan pergantian kekuasaan. Meski singkat, fase ini menanamkan fondasi awal bagi perkembangan Kekristenan yang lebih sistematis di abad-abad berikutnya.

Perjalanan baru dimulai pada pertengahan abad ke‑19 ketika para zendeling Protestan Belanda tiba. Dikenal sebagai “zendeling tukang” karena mereka menggabungkan penginjilan dengan keahlian praktis seperti carpentry, tokoh-tokoh seperti Carl W. L. M. Schroder, E. T. Steller, F. Kelling, dan A. Grohe mulai pelayanan mereka sekitar 1858–1859.
Tanggal 1 Oktober 1859 kini dikenang sebagai Hari Pekabaran Injil, menandai penginjilan Protestan secara sistematis di pulau ini. Paul Kelling menjadi figur penting dalam pembentukan jemaat lokal yang kelak menjadi GMIST Jemaat Ulu.
Selain pengajaran, para zendeling menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa lokal, memungkinkan masyarakat memahami Firman Tuhan secara kontekstual. Strategi ini menumbuhkan iman yang kuat dan membentuk komunitas Kristen berakar dalam budaya Siau.
Setelah bertahun-tahun pembinaan jemaat, Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) resmi berdiri pada 15 Mei 1947, menjadi gereja mandiri yang mewadahi jemaat-jemaat Protestan di Kepulauan Sangihe-Talaud. GMIST Jemaat Ulu, yang terletak di Salingkapu, Kelurahan Tarorane, Kecamatan Siau Timur (Sitim), Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), tepat di pusat Kota Ulu, menjadi salah satu jemaat tertua dan pusat kehidupan rohani masyarakat setempat. Bangunan gereja dengan simbol ayam jago di menara menjadi lambang kewaspadaan, pertobatan, dan kesetiaan lintas generasi.

Perayaan HUT GMIST Jemaat Ulu yang dirayakan setiap tanggal 5 Ferbuari hari ini ini bukan sekadar merayakan usia jemaat, tetapi juga momen refleksi perjalanan iman dari abad ke‑16 hingga masa kini. Dari kontak awal dengan misionaris Katolik, melalui pelayanan zending Protestan 169 tahun lalu, hingga berdirinya GMIST modern, perjalanan ini menunjukkan bahwa iman yang dirawat dan diwariskan mampu bertahan melewati zaman. Jemaat diajak merenungkan komitmen pelayanan mereka dan bagaimana terus menjadi berkat bagi masyarakat Siau.
Wakil Ketua II Majelis Pekerja Jemaat (MPJ) GMIST Ulu, Sancelto Kalebos saat ditemui kabarutaraindonesia.com mengatakan, perayaan tahun memang telah disipakan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. “Namun bertepatan dengan kejadian yang dialami oleh saudara seiman di Kelurahan Bahu maka kegiatan-kegiatan yang telah direncaakan telah dibatalkan,” kata Kalebos.
“Hanya ibadah, doa Bersama dan juga layanan pemeriksaan Kesehatan gratis yang dilaksanakan. Tapi kegiatan perlombaan dan juga kegiatan lainnya sudah tidak dilaksanakan. Nanti sebentar ada ibadah syukur Bersama di Gedung gereja,” tambah Kalebos.
Peringatan HUT ke-359 GMIST Jemaat Ulu ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat iman, persatuan, serta komitmen jemaat dalam melayani Tuhan dan sesama di tengah dinamika zaman.(*)
Penulis : Stenly Gaghunting
Sumber : Dari berbagai sumber/Zending-Zending Karya D. Brilman/MPJ GMIST Jemaat Ulu.








