DALAM Injil Yohanes 10:11, Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Pernyataan ini bukan sekadar metafora, tetapi inti dari panggilan Kristus sebagai Penebus. Gembala yang baik mengenal domba-domba-Nya secara intim Ia melihat kebutuhan, kelemahan, dan kerinduan terdalam setiap jiwa.
Teologi dari peran Yesus sebagai Gembala menegaskan bahwa keselamatan bukan hanya tentang pengampunan dosa, tetapi juga tentang persekutuan yang hidup dengan Kristus. Seorang gembala tidak hanya menjaga, tetapi juga memimpin, menuntun, dan menghidupi domba-dombanya.
Dalam konteks ini, Yesus bukan sekadar pemimpin spiritual; Ia adalah Sang Mediator yang membimbing umat ke “padang rumput yang hijau” (Mazmur 23:2) simbol dari kehidupan yang dipenuhi rahmat dan damai sejahtera Allah.
Korban diri Yesus di kayu salib menegaskan kasih-Nya yang radikal. Sebagai Gembala, Ia rela menanggung penderitaan demi menyelamatkan domba-domba-Nya, menegaskan bahwa keselamatan kita bukan hasil usaha manusia, tetapi tindakan kasih ilahi yang aktif dan personal.
Doktrin keselamatan ini menekankan bahwa setiap orang yang percaya dan mengikuti-Nya diundang untuk mengalami kehidupan baru, bukan dalam ketiadaan masalah, tetapi dalam kepastian bimbingan dan perlindungan Tuhan.
Sebagai domba-domba Kristus, kita dipanggil untuk mendengarkan suara-Nya, mengikuti petunjuk-Nya, dan bersandar sepenuhnya pada penyelenggaraan ilahi. Hubungan ini bukan pasif; melainkan dialog hidup di mana iman, pengharapan, dan kasih berkembang. Dalam setiap langkah, Yesus hadir: menuntun, menguatkan, dan meneguhkan hati kita di tengah tantangan dunia.
Yesus Kristus sebagai Gembala yang Baik menuntun kita bukan hanya menuju keselamatan akhir, tetapi juga ke kehidupan yang penuh makna dan sukacita di dunia ini, selaras dengan kehendak Allah Bapa.
Dengan demikian, mengikut Kristus berarti hidup dalam pengenalan yang mendalam akan kasih, tuntunan, dan kuasa Allah yang membebaskan. “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10).(*)
Sumber : Kabar Utara Indonesia








