NAMA Stefanus mungkin tidak sepopuler Petrus atau Paulus, tetapi perannya dalam sejarah Kekristenan sangat menentukan. Ia dikenal sebagai martir pertama gereja mula-mula—seorang saksi iman yang membayar kesetiaannya dengan nyawa. Namun, kisah Stefanus bukan sekadar catatan tragis masa lalu; ia adalah cermin yang menantang iman orang percaya di tengah realitas zaman ini.
Stefanus bukan rasul dan bukan pemimpin besar. Ia dipilih sebagai pelayan jemaat karena kesaksian hidupnya. Alkitab mencatat bahwa ia adalah “seorang yang penuh iman dan Roh Kudus” (Kisah Para Rasul 6:5). Dari sini kita belajar bahwa panggilan iman tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh kualitas hidup. Dalam pelayanan yang tampak sederhana, Stefanus justru menunjukkan iman yang dewasa dan berakar kuat.
Masalah muncul ketika hikmat dan keberanian Stefanus mulai mengguncang kenyamanan para pemimpin agama. Ia dikenal sebagai pribadi yang “penuh karunia dan kuasa” dan melakukan tanda-tanda serta mujizat di antara orang banyak (Kis. 6:8). Bahkan, lawan-lawannya “tidak dapat melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara” (Kis. 6:10). Ketika kebenaran tidak lagi bisa dibantah, fitnah pun digunakan untuk membungkamnya.
Di hadapan Mahkamah Agama, Stefanus tidak membela diri dengan ketakutan. Ia justru menyampaikan pidato yang menelusuri sejarah keselamatan Israel, sambil menegur ketidaktaatan umat terhadap Allah. Dengan tegas ia berkata, “Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus” (Kis. 7:51). Kata-kata ini menunjukkan bahwa iman, bagi Stefanus, bukan sesuatu yang disimpan aman, melainkan disuarakan—meski berisiko.
Kisah Stefanus bersentuhan langsung dengan kondisi gereja masa kini. Dalam masyarakat yang semakin sensitif terhadap perbedaan, gereja sering berada di persimpangan antara bersuara atau diam demi kenyamanan. Padahal, sejak awal iman Kristen tidak pernah lepas dari keberanian moral. Stefanus menjadi contoh bahwa kesetiaan pada kebenaran bisa menimbulkan penolakan, tetapi diam terhadap ketidakbenaran juga bukan pilihan Injil.
Namun, keberanian Stefanus tidak berdiri sendiri. Di saat-saat terakhir hidupnya, ia justru memperlihatkan kasih yang luar biasa. Ketika dirajam, ia “menatap ke langit dan melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah” (Kis. 7:55). Dalam penderitaan itu ia berseru, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis. 7:59), lalu berdoa, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka” (Kis. 7:60). Doa ini menggemakan doa Yesus di kayu salib dan menjadi puncak kesaksian iman Stefanus.
Di tengah realitas hari ini—termasuk di ruang digital—perbedaan pandangan sering berakhir pada ujaran kebencian dan polarisasi. Kisah Stefanus menegur cara kita bersikap. Ia mengajarkan bahwa bersuara bagi kebenaran tidak boleh kehilangan kasih, dan bahwa keberanian iman sejati selalu disertai kerelaan untuk mengampuni.
Akhirnya, Stefanus menantang gereja dan orang percaya masa kini untuk bercermin. Apakah iman kita masih memiliki daya gugah? Ataukah kita lebih sibuk menjaga posisi aman dan penerimaan sosial? Stefanus memang mati sebagai martir pertama, tetapi melalui kesaksiannya ia terus hidup—menjadi pengingat bahwa iman sejati mungkin tidak selalu aman, tetapi selalu bermakna.(*)
Sumber : Kabar Utara Indonesia








