Oleh : Stenly Rein Mes Gaghunting
Secara ajaib Tuhan telah menyelamatkan seluruh keluarga Penginjil F. Kelling dari ancaman maut pada peristiwa yang menimpa Pulau Taghulandang. Apa yang terjadi pada kemudian hari dikisahkan oleh puteranya, Paul Kelling.
Peristiwa itu terjadi pada 1872, hanya setahun setelah istri Kelling meninggal dalam perjalanan menuju tanah Belanda dan dikuburkan di Saint-Helena.
Sepenggal kisah itu ditulis oleh D. Brilman dalam bukunya “onze zendingsvelden de zending op de Sangi en Talaud (Wilayah-Wilayah Zending Kita, Zending di Kepulauan Sangi dan Talaud) yang diterjemahkan oleh team penerjemah Badan Pekerja Sinode Gereja Masehi Injili Sangihe dan Talaud.
“Suara bunyi yang tiba-tiba kedengaran dan aneh menarik perhatian ayah saya (F. Kelling), yang kebetulan ada di serambi depan rumah, yang terletak hanya 40 meter dari pantai dan hampir sama tinggi dengan pantai,” kisah Paul.
Waktu dia melayangkan matanya ke gunung berapi Ruang yang hanya 770 meter tingginya dan jaraknya dari Tagulandang hanya sejam berperahu, dia melihat ombak pasang berbuih-buih, mendidih, seperti dinding putih sementara datang dengan kekuatannya yang sangat dahsyat.
“Kepada penghuni rumah, yang dengan cepatnya terkumpul, ayah hanya sempat berkata “mari kita berdoa”, kemudian kami bersama-sama berlutut,” kata Paul.
Doa minta tolong ini belum habis diucapkan waktu ombak pasang itu dalam waktu yang singkat sekali telah melewati rumah zendeling itu dari sebelah menyebelah, dan merusakkan seluruh negeri Tagulandang.
Karena perlindungan Tuhan hanya rumah zendeling yang masih berdiri, ya di tengah-tengah pemusnahan tidak seorangpun di dalam rumah itu mengalami cedera sedikitpun, walaupun ombak pasang itu melewati rumah dari sebelah menyebelah dengan segala kedahsyatan, sehingga kemudian tumbuh-tumbuhan laut kedapatan di kiri-kanan puncak pohon-pohon kelapa yang paling tinggi. Seakan-akan ombak itu dibelah oleh tangan Tuhan di depan rumah zendeling.
Syukurlah malapetaka ini terjadi di siang hari, sedangkan banyak penduduk ada di kebunnya di pegunungan. Namun kira-kira 450 jiwa tergilas air bah. Seluruh negeri itu penuh dengan orang yang putus asa dan rumah Kelling segera berubah menjadi rumah sakit untuk orang banyak yang menderita luka berat.
F. Kelling merupakan salah satu dari sembilan orang zendeling yang ditugaskan khusus untuk pulau-pulau Sangi dan Talaud oleh Komisi Zendeling-Tukang sesuai dengan rapat kelima dari “Christelijke Vrienden” di Kota Amsterdsam Belanda, agar memulakan pekerjaan zending di Belanda dengan cara yang sedemikian. Pelaksanaan rencana ini ditugaskan kepada enam orang anggota.
Namun dalam tahun-tahun pertama tugas pekerjaan komisi ini tidak memberikan hasil yang praktis, karena di tanah Belanda tidak terdapat orang-orang yang cocok dan bersedia untuk bekerja menurut syarat-syarat demikian. Oleh sebab itu pada tahun 1850 ds Heldring sendiri pergi ke Berlin, dimana Gossner, walaupun tidak segera, mempertemukannya dengan tiga orang pemuda, yang kemudian diutus oleh komisi, melalui Belanda ke Jawa, dimana mereka tiba pada tanggal 5 Agustus 1851, tulis Brilman. (*)
Sumber : D. Brilman dalam bukunya “onze zendingsvelden de zending op de Sangi en Talaud (Wilayah-Wilayah Zending Kita, Zending di Kepulauan Sangi dan Talaud) yang diterjemahkan oleh team penerjemah Badan Pekerja Sinode Gereja Masehi Injili Sangihe dan Talaud. Dan juga Barta1.com.








