Oleh : Anastasya Miokocan
Banjir yang datang berulang, longsor saat hujan deras, hingga angin kencang yang merusak pemukiman kini menjadi bagian dari keseharian banyak wilayah di Indonesia. Dalam laporan kebencanaan, peristiwa-peristiwa tersebut kerap disebut sebagai bencana hidrometeorologi.
Istilah ini mungkin terdengar teknis, namun dampaknya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
Apa yang Dimaksud Bencana Hidrometeorologi?
Secara sederhana, bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dipicu oleh faktor cuaca, iklim, dan air. Kata hidro merujuk pada air, sementara meteorologi berkaitan dengan cuaca dan atmosfer.
Jenis bencana ini mencakup banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, kekeringan, hingga gelombang tinggi di wilayah pesisir. Di Indonesia, bencana hidrometeorologi tercatat sebagai jenis bencana yang paling sering terjadi.
Fenomena Alam atau Akibat Ulah Manusia?
Cuaca ekstrem dan perubahan iklim global sering disebut sebagai pemicu utama meningkatnya bencana hidrometeorologi. Curah hujan menjadi lebih tidak menentu, sementara musim kemarau berlangsung lebih panjang dan kering.
Namun, akan kurang adil jika semua diserahkan pada faktor alam. Aktivitas manusia turut memperbesar risiko. Kerusakan hutan, berkurangnya daerah resapan air, tata ruang yang tidak mempertimbangkan risiko bencana, hingga kebiasaan membuang sampah sembarangan memperparah dampak cuaca ekstrem.
Bencana hidrometeorologi, pada titik tertentu, mencerminkan relasi manusia dengan lingkungannya.
Dampak yang Tidak Sekadar Angka
Setiap bencana selalu menyisakan data: jumlah rumah rusak, korban terdampak, hingga kerugian materi. Namun di balik angka-angka itu, ada cerita tentang kehidupan yang terganggu.
Anak-anak terpaksa berhenti sekolah sementara, petani kehilangan lahan garapan, pedagang kehilangan penghasilan, dan keluarga harus memulai kembali dari nol. Dampak psikologis juga kerap luput dari perhatian, padahal rasa trauma bisa bertahan jauh lebih lama dari genangan air atau longsoran tanah.
Mengapa Edukasi Menjadi Penting?
Bencana hidrometeorologi sebenarnya bukan bencana yang datang tanpa tanda. Banyak di antaranya dapat diprediksi risikonya melalui informasi cuaca dan pemetaan wilayah rawan.
Di sinilah edukasi kebencanaan menjadi penting. Masyarakat perlu memahami risiko di wilayah tempat tinggalnya, mengenali tanda-tanda bahaya, serta mengetahui langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.
Pemahaman ini tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar.
Dari Respon Darurat ke Kesiapsiagaan
Selama ini, penanganan bencana masih sering berfokus pada respon darurat setelah kejadian. Bantuan logistik dan layanan kesehatan tentu penting, tetapi kesiapsiagaan sebelum bencana seharusnya mendapat porsi yang sama besar.
Penataan ruang yang lebih bijak, perlindungan lingkungan, serta pembangunan infrastruktur yang memperhitungkan risiko iklim perlu menjadi bagian dari kebijakan jangka panjang.
Tanggung Jawab yang Bersifat Kolektif
Menghadapi bencana hidrometeorologi bukan semata tanggung jawab pemerintah atau lembaga kebencanaan. Masyarakat juga memiliki peran penting, mulai dari menjaga lingkungan sekitar hingga mengikuti peringatan dini cuaca ekstrem.
Kesadaran kolektif menjadi kunci. Tanpa itu, bencana akan terus berulang dengan pola yang sama.
Belajar dari Alam
Bencana hidrometeorologi dapat dilihat sebagai pengingat bahwa alam memiliki batas. Setiap banjir dan longsor membawa pesan tentang keseimbangan yang terganggu.
Memahami bencana bukan untuk menakuti, tetapi untuk menyiapkan diri. Dengan pengetahuan yang cukup dan sikap yang lebih peduli, risiko bencana dapat dikurangi, meskipun tidak sepenuhnya dihilangkan.(*)








